Tampilkan postingan dengan label PT. DIRGANTARA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT. DIRGANTARA INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

Drone "Wulung" Kantongi Sertifikat dari IMAA

Drone Wulung yang diproduksi oleh PT DI (photos : detik)

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah berhasil mendapatkan sertifikat tipe (Type Certificate) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Dengan dikeluarkannya sertifikat tipe ini, maka proses rancang bangun dan spesifikasi teknis serta batasan operasi pesawat yang tercantum dalam data sheet sertifikat tipe telah memenuhi ketentuan atau aturan kelaikan udara.

Sertifikat tipe Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Wulung diserahkan oleh Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia kepada PTDI dalam acara penyerahan Type Certificate pada 26 April 2016 di Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia (Persero), Jalan Pajajaran No. 154 Bandung.

Senin, 18 April 2016

PTDI Rancang Helikopter Pemburu Kapal Selam

Made In Bandung Helikopter TNI AL

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sedang merancang helikopter khusus. Kali ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat ini mendesain heli pemburu kapal selam atau Anti Kapal Selam (AKS).

Untuk pengembangan ini, PTDI menggandeng Airbus Helicopters. Airbus akan menyediakan heli standar varian militer jenis AS565 MBe Panther.

"Kami sendiri yang bikin desain integrasi untuk sonar dan torpedo. Ini namanya heli Panther Anti Kapal Selam (AKS)," kata seorang karyawan PTDI kepada detikFinance, Senin (18/4/2016).

Dalam industri helikopter versi militer, tidak ada heli baru yang langsung tersedia sesuai kebutuhan pemesan. Produsen helikopter hanya menyediakan heli standar. Untuk varian AS565 MBe Panther, PTDI berperan mendesain dan merakit peralatan Anti Kapal Selam seperti sonar dan persenjataan yang diminta oleh pemesan yakni TNI AL.

Senin, 29 Februari 2016

Bell Helicopter and PT Dirgantara Indonesia (Persero) sign industrial and commercial agreement

. Nbell 412 TNI AL

Bell Helicopter, a Textron Inc. company, announced an expanded industrial and commercial agreement with PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) that will enable the two companies to expand their support and services in Indonesia to Bell Helicopter operators.

Both companies signed the agreement at Bell Helicopter headquarters in Fort Worth, Texas, on Nov. 30, 2015.

Bell Helicopter and PTDI had an agreement in place from 2012 and this extension further solidifies PTDI’s customization and delivery work for Bell 412 platforms and allows PTDI to enhance its relationship with other Bell Helicopter customers and for additional Bell commercial aircraft models.

Indonesia’s armed forces have long been served through the Bell Helicopter and PTDI relationship and this agreement will allow Bell Helicopter and PTDI to continue to meet the defense and parapublic needs of the nation and its citizens.

Kamis, 18 Februari 2016

SINGAPORE AIRSHOW: PTDI Kenalkan Glass kokpit Andalan N219

kokpitN219(2)
PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) ikut unjuk gigi dalam ajang Internasional Singapore Air Show 2016 yang resmi dibuka Selasa (16/2) di Changi Exhibition Centre, Singapura. Salah satu yang ditunggu-tunggu adalah kabar penyempurnaan N219.
Booth PTDI berada di nomor C77. PTDI mengikuti Singapore Airshow dengan membawa CN235-220MPA yang telah dioperasikan TNI Angkatan Laut yang merupakan pesawat patroli kelas medium dan N219 kebanggaan anak bangsa yang belum diujicoba.
Pesawat ini sangat cocok dan unggul untuk mengemban misi patroli maritim dalam mengawasi dan menjaga lautan yang luas. Selain memiliki kemampuan untuk patroli maritim, ia juga memiliki daya jelajah hingga 11 jam, mampu mendeteksi sasaran kecil, memiliki kamera pengintai resolusi tinggi untuk pencitraan dan juga memiliki FLIR yang dilengkapi dengan infrared sehingga dapat mendeteksi sasaran di malam hari.

Rabu, 17 Februari 2016

C-295M: Pesawat Angkut Taktis Lapis Kedua TNI AU


Rangkaian aksi pencarian dan evakuasi korban penumpang pesawat Air Asia QZ8501 secara langsung juga menampilkan performa armada pesawat angkut taktis milik TNI AU. Selain yang utama pesawat angkut berat C-130 Hercules Skadron Udara 31, misi SAR dan transportasi udara selama operasi terkait Air Asia QZ8501 juga menghadirkan keluarga baru TNI AU, yakni C-295M, pesawat taktis angkut sedang dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma.
Bersama C-130 Hercules, C-295M Skadron Udara 2 mendapat peran untuk mengangkut jenazah korban Air Asia QZ8501 dari Pangkalan Bun Ke Lanudal Juanda di Surabaya. Selain itu, C-295M juga menorehkan kesan mendalam, pasalnya awak pesawat ini yang pertama kali menemukan serpihan pesawat naas di tengah laut. Penugasan C-295 bukanlah tanpa sebab, pesawat dengan dua mesin 2 Mesin Turboprop Pratt & Whitney Canada (PW 127G) ini memiliki kemampuan untuk terbang non-stop selama delapan jam.

Kirim Lebih dari 400 Pesawat PT. DI Klaim Sebagai Pabrik Manufaktur Pesawat Terunggul di Asia Tenggara

“‘Apa mungkin orang Indonesia bisa bikin pesawat terbang?’ Orang Indonesia memang gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri,” kata Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden Republik Indonesia ketiga yang juga pernah menjabat sebagai Presiden Direktur PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kemudian berubah nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) –sekarang PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Kirim Lebih dari 400 Pesawat PT. DI Klaim Sebagai Pabrik Manufaktur Pesawat Terunggul di Asia Tenggara

Kalimat itu dilontarkan Habibie saat berkunjung ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia di Kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Januari 2012. Habibie, saat menjadi Menteri Riset dan Teknologi era Soeharto, terkenal dengan visinya hendak membawa Indonesia menjadi negara industri berteknologi tinggi. Pria yang disekolahkan Soekarno ke Jerman untuk mengambil studi teknik penerbangan spesialisasi konstruksi pesawat terbang itu kukuh mendorong Indonesia melakukan lompatan dari negara agraris menuju negara industri.

Selasa, 16 Februari 2016

Perluas Pemasaran, PT DI Ikut Ajang Singapore Airshow 2016

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) mengikuti Singapura Airshow 2016 yang berlangsung 16-21 Februari 2016. Keikutsertaan ini untuk memperluas pemasaran dan peningkatan penjualan pada perusahaan pelat merah tersebut.

Perluas Pemasaran, PT DI Ikut Ajang Singapore Airshow 2016

“Singapore Airshow merupakan ajang menampilkan keunggulan PTDI di Asia dan dunia untuk membuktikan kemampuan bangsa menguasai teknologi dirgantara”, ujar Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, melalui rilis ke KOMPAS.com, Rabu (17/02/2016).

Dalam pameran tersebut, PT DI membawa CN235-220MPA. Pesawat ini adalah pesawat patroli kelas medium yang sangat cocok dan unggul untuk mengemban misi patroli maritim dalam mengawasi dan menjaga lautan yang luas.


Pesawat tersebut memiliki daya jelajah hingga 11 jam, serta mampu mendeteksi sasaran kecil. Pesawat ini memiliki kamera pengintai resolusi tinggi untuk pencitraan dan juga memiliki FLIR yang dilengkapi dengan infrared, sehingga dapat mendeteksi sasaran di malam hari.

PTDI Pamerkan CN235 hingga Program Jet Tempur

Di Singapore Air Show http://images.detik.com/visual/2016/02/16/ef8a9f99-22e2-40ae-b112-9e30ae9bc6c5_169.jpg?w=500&q=90PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tampil kembali dalam ajang Singapore Air Show 2016, yang berlangsung di Changi Exhibition Centre, Singapura.

Langkah PTDI di acara rutin dua tahunan ini, bertujuan memperluas pemasaran dan meningkatkan penjualan berbagai produk dan jasa yang dihasilkan selama ini.

PTDI mengikuti Singapore Airshow dengan membawa pesawat utuh hingga program pengembangan pesawat, salah satunya ialah pesawat CN235-220MPA yang telah dioperasikan TNI Angkatan Laut. CN235-220MPA merupakan pesawat patroli kelas medium, untuk mengemban misi patroli maritim dalam mengawasi dan menjaga lautan yang luas.

Helikopter Super Cougar Bisa Mendarat di Laut Bila Mesin Mati

PT Dirgantara Indonesia mengklaim Eurocopter EC725 Caracal atau Super Cougar yang mereka produksi lebih canggih dari helikopter AgustaWestland AW101 buatan Italia-Inggris yang sempat diincar TNI Angkatan Udara sebagai kendaraan operasional bagi very very important person (VVIP).

Helikopter Super Cougar Bisa Mendarat di Laut Bila Mesin Mati

“Teknologinya lebih tinggi  dari AW101. Kalau mesin EC725 mati lalu terpaksa mendarat di laut, itu enggak pakai siapkan apa-apa, tapi langsung floating (mengambang) karena alatnya yang di bawah langsung terbuka. AW101 setahu saya belum ada teknologi itu,” kata Manajer Penetrasi Pasar dan Jaringan PTDI Dadhik Kresnadi di hanggar helikopter PTDI, Bandung, Jawa Barat, Kamis (11/2).

Super Cougar, kata Dadhik, merupakan helikopter angkut berat yang mampu membawa muatan hingga hampir lima ton. EC725 juga mampu menjelajah udara sejauh 300-500 nautikal mil (900 kilometer) dengan bahan bakar penuh.

Ekspor Pesawat PT DI Tahun 2015 Mencapai Rp 1,5 Triliun

CN235 di fasilitas perakitan PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat. (photo : Kompas)

KOMPAS.com - Sepanjang tahun 2015 lalu, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) telah memproduksi dan mengirimkan pesawat terbang dan komponen pesawat terbang untuk pasar luar negeri (ekspor).

Jumlah tersebut terdiri atas 2 unit CN235-220 Multi Tasks untuk kepolisian Thailand (Royal Thai Police) dan untuk Afrika. Selain itu, terdapat juga 6 unit pesawat NC212 berbagai versi yang dikirim ke Thailand, Filipina, dan Vietnam.

PT DI juga mengekspor komponen pesawat terbang untuk Airbus Group & maskapai Korean Air.

Nilai Kontrak PT DI dari TNI Sepanjang 2015 Capai Rp 9,4 Triliun

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3O5WTo4bPuEg6OcSOYuU1L9Ft2mMthtfHbHOdYETYcZaQ9I9q4SFKqq0iUBQBcaF6ndCssBPaIhzlL0oh6mrN3jaW82j1hr1RJ4kAfnWO9-jj9cILnYJkvG2ejogCOvMiV7BRFd7YXhk/s400/0841129EC725-Cougar780x390.jpgHelikopter EC725 Cougar yang dirakit oleh PT Dirgantara Indonesia di Bandung. 

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menyatakan dukungannya terhadap pengembangan kemampuan Minimum Essential Force (MEF) yang sedang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan Kementerian Pertahanan dan TNI.

Untuk memenuhi kebutuhan TNI, khususnya kebutuhan transportasi medium, PT DI sepanjang 2015 lalu sudah menyerahkan 9 unit pesawat CN295, 12 pesawat CN235 untuk TNI AU dan AL, serta 32 unit pesawat NC212 kepada TNI.

Selain pesawat dengan sayap tetap (fixed wing), PT DI juga telah menyerahkan sejumlah pesawat sayap putar (rotary wing) atau helikopter kepada TNI.

Sepanjang tahun 2015, total terdapat 31 unit helikopter Bell 412 EP, 14 unit Bell 412 SP, dan 36 unit helikopter jenis NBO105.

Sementara untuk helikopter Super Puma NAS332, PT DI telah menyerahkan 13 unit untuk TNI.

Jumat, 12 Februari 2016

Pesawat khusus ekonomis jadi keunggulan PT DI

Setelah N219 merambah ke N245 Ilustrasi N219 PT DI

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengungkapkan jenis pesawat yang didesain secara khusus dan memiliki harga yang kompetitif di segi ekonomi dianggap menjadi keunggulan produk pesawat Indonesia.

"Kami kelebihannya cuma satu, kalau ada yang minta pesawat spesial, biasanya kita bisa lebih kompetitif dibanding perusahaan lain," kata Budi di Bandung, Kamis.

Budi mencontohkan untuk pesawat yang biasa digunakan sebagai pesawat patroli udara, perusahaan perakitan pesawat terbang tersebut dapat menambahkan fitur integrasi antara satu peralatan dengan peralatan lain. Meski demikian, pesawat tersebut dibuat kompetitif dari sisi ekonomis.

http://kasamago.com/wp-content/uploads/2015/12/n219.jpg
                                                                *Prototype N-219*

Jet Tempur IFX akan Setengah Siluman

kfx_2012_c200
Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengatakan jet tempur yang dibangun Indonesia dan Korea Selatan belum akan masuk ke kelas generasi kelima. Pesawat ini akan berada di level generasi 4++ dengan karakter setengah siluman.
Menurutnya secara desain pesawat ini sudah sesuai dengan sifat stealth. Tetapi secara materi belum.
“Pesawat ini merupakan generasi 4.5 dengan jenis semi-stealth. Kita menggunakan geometri stealth, kalau materialnya belakangan,” kata Budi sebagaimana dikutip Antara Kamis 11 Februari 2016.
Dalam perjanjian pembagian biaya yang disepakati kedua negara, Indonesia membiayai 20 persen dari total keseluruhan biaya eksperimen. Sementara Korea Selatan mendanai 80 persen sisanya. Namun Indonesia tetap mendapatkan 90 persen teknologi pembuatan tersebut.

Jumat, 05 Februari 2016

PTDI Telah Mengekspor 40 Unit Pesawat, Terlaris CN235


 CN-235 UAE (photo : hop9)


http://www.airteamimages.com/pics/196/196297_800.jpg
 ( CN 235 KOREA COAST GUARD)

 Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tercatat telah mengekspor 40 unit pesawat baling-baling tipe CN235 dan NC212 ke beberapa negara, hingga akhir 2015 lalu.

Dari data ekspor PTDI, tercatat pesawat jenis CN235 sebagai produk yang paling laris. PTDI telah mengekspor sebanyak 35 unit pesawat CN235 kepada pemesannya di luar negeri, sisanya adalah NC212.

Senin, 01 Februari 2016

Pesawat N219 Jalani Proses Sertifikasi dan Uji Terbang

Pesawat N219 selepas roll-out beberapa waktu lalu, langsung dipreteli untuk menjalani proses sertifikasi. “Jangan heran kalau lihat di hanggar, pesawatnya dibongkar ulang,” ujar Kepala Divisi Rekayasa Manufaktur, Direktorat Produksi, PTDI, Mukhamad Robiawan, di Bandung, 29 Januari 2016.

Pesawat N219 Jalani Proses Sertifikasi dan Uji Terbang

Rabu, 27 Januari 2016

Pemerintah Kaji Pembangunan Kawasan Industri Kedirgantaraan

Perakitan pesawat di PT DI (photo : Detik)

Pemerintah Kaji Pembangunan Kawasan Industri Pesawat Terbang

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah mengkaji rencana pembangunan kawasan industri khusus kedirgantaraan. Hal ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan industri pesawat terbang di dalam negeri.

Begini Gambaran Kemampuan Drone Tempur Indonesia

drone wulung
Indonesia melalui PT Dirgantara Indonesia (DI) tengah mengembangkan drone tempur yang disebut akan sekelas dengan drone tempur pertama di dunia MQ-1 Predator yang sampai saat ini masih digunakan oleh Amerika Serikat.
Selain itu pesawat tanpa awak Wulung juga akan segera masuk garis produksi. Pesawat yang akan didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Senin, 25 Januari 2016

Test Flight AX2342

✈ Flight Duyung 18Ilustrasi CN235 MPA TNI AU [noviarli]

Berikut penampakan pesawat pesanan TNI AU sedang menjalani tes uji terbang di Bamdung.

Pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia jenis CN 235 merupakan pesawat ke 42 yang pernah dibuat atau diasembly di Bandung.

Foto ini hasil jepretan noviarli yang diposkan di def.pk:

Wulung, Drone Pertama di ASEAN yang Berstandar Industri Pesawat

 Wulung UAV produksi PT Dirgantara Indonesia (all photos : Detik)

Tak tanggung-tanggung, PTDI melibatkan 100 insinyur hingga mekanik pesawat untuk melahirkan drone siap produksi.

Selama proses ujicoba hingga sertifikasi, PTDI memakai 5 unit drone. Bila berhasil mengantongi sertifikat dari IMAA, Wulung akan menyerahkan 3 unit kepada Kementerian Pertahanan pada Februari 2016, sedangkan sisanya dipakai untuk tahap pengembangan drone fase berikutnya.

PT DI Kembangkan MALE UAV


 Konsep MALE UAV rancangan PT DI (images : Detik)

'MALE', Drone Canggih Buatan PTDI Bisa Terbang 24 Jam Non Stop

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan masuk pengembangan drone atau Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE). Drone kelas ini dirancang mampu terbang non stop 24 jam dengan ketinggian jelajah sampai 23.000 kaki (feet).